Opini si galing
MANUSIA vs ROBOT
Hari itu di kampus kami tercinta kedatangan
tamu terhormat dari Malaysia, beliau adalah vice rector di IIUM Malaysia. Prof.
Emeritus Tan Sri Dzulkifli Abdul Razak memberikan pidato akan bumingnya
“kecerdasan buatan”, mereka adalah para robot dan mesin yang akan menggantikan
manusia dalam beberapa pekerjaan di massa mendatang nanti. Beliau mengatakan
bahwa The Future World akan terdiri dari: Artificial Intelligence, Robotic dan
Industry Revolution. Sebuah negara hanya akan memiliki 2 pilihan; digitize or
die!
Kejadian baru-baru ini menyadarkan saya
sebarapa jauh Artificial Intelligence mempengaruhi Indonesia. Pemindahan ibu
kota untuk akekahan si anak yang baru lahir “Industry Revolution 4.0”, mulai
dari pemotongan rambut, pesta sambutan kelahiran dan bahkan berbagai macam
hadiah yang telah siap untuk bayi Industry Revolution 4.0 ini. Ahh... berapa banyak biaya yang dikeluarkan
untuk syukuran anak ini?
Beberapa film barat di tahun 70’an menampilkan teknologi yang dalam pandangan
para penonton adalah sebuah sihir, kini kita telah membuatnya, memakainya
seakan barang biasa. Tante saya pernah mengatakan seperti ini “kemajuan yang didapat pada zaman ini
sebenarnya adalah sebuah kemunduran peradaban umat manusia”.
Bingung,
saya bertanya apanya yang sebuah kemunduran? Teknologi kita adalah yang paling
mutakhir. Tante saya menjawab: “membangun
apartemen dengan ratusan lantai memerlukan waktu berbulan-bulan, ditambah kerangka
bangunan yang terdiri dari berbagai macam bahan-bahan. Belum tentu lagi
bangunan tersebut tahan ketika bencana alam. Tapi… kalian tau pyramid yang
hanya berbahan dasar batu? masih melekat, kokoh berdiri hingga sekarang. Apa
kita tau resep rahasia mereka dalam menempelkan batu demi batu?”.
Wahai indonesiaku . . . Sebagai ibu kami, tidakkah pedih hatimu
melihat keluargamu terhimpit hidupnya dengan kaleng baja, hanya tersisa
pekerjaan menjadi jongos, untuk mereka yang kalah saing dengan robot-robot itu.
Bahkan di gunung emas yang tanah suburnya tersiram darah perjuangan kami. Demi kami anak kandungmu, masih sudi-kah
engkau berdo’a agar nasib kami tidak seperti malin kundang yang durhaka kepada
ibunya sendiri. Akankah engkau
menyumpahi kami berakhir menjadi batu?
Sebagai hasil kreasi otak manusia, akankah
kalian menjual jiwa kalian? Menyembah apa yang kalian buat seperti zaman dahulu
kala lagi? Bukankah kita seharusnya menjadi dokter yang mengontrol takaran obat
agar menyembuhkan, bukan membuatnya overdosis?
Salam hangat dari si galing untuk pemuda-pemudi penerus bangsa.