Saturday, September 7, 2019

Manusia vs Robot


Opini si galing

MANUSIA vs ROBOT
Hari itu di kampus kami tercinta kedatangan tamu terhormat dari Malaysia, beliau adalah vice rector di IIUM Malaysia. Prof. Emeritus Tan Sri Dzulkifli Abdul Razak memberikan pidato akan bumingnya “kecerdasan buatan”, mereka adalah para robot dan mesin yang akan menggantikan manusia dalam beberapa pekerjaan di massa mendatang nanti. Beliau mengatakan bahwa The Future World akan terdiri dari: Artificial Intelligence, Robotic dan Industry Revolution. Sebuah negara hanya akan memiliki 2 pilihan; digitize or die!



Kejadian baru-baru ini menyadarkan saya sebarapa jauh Artificial Intelligence mempengaruhi Indonesia. Pemindahan ibu kota untuk akekahan si anak yang baru lahir “Industry Revolution 4.0”, mulai dari pemotongan rambut, pesta sambutan kelahiran dan bahkan berbagai macam hadiah yang telah siap untuk bayi Industry Revolution 4.0 ini.   Ahh... berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk syukuran anak ini?

Beberapa film barat di tahun 70’an  menampilkan teknologi yang dalam pandangan para penonton adalah sebuah sihir, kini kita telah membuatnya, memakainya seakan barang biasa. Tante saya pernah mengatakan seperti ini   “kemajuan yang didapat pada zaman ini sebenarnya adalah sebuah kemunduran peradaban umat manusia”.
 Bingung, saya bertanya apanya yang sebuah kemunduran? Teknologi kita adalah yang paling mutakhir. Tante saya menjawab:   “membangun apartemen dengan ratusan lantai memerlukan waktu berbulan-bulan, ditambah kerangka bangunan yang terdiri dari berbagai macam bahan-bahan. Belum tentu lagi bangunan tersebut tahan ketika bencana alam. Tapi… kalian tau pyramid yang hanya berbahan dasar batu? masih melekat, kokoh berdiri hingga sekarang. Apa kita tau resep rahasia mereka dalam menempelkan batu demi batu?”. 



Wahai indonesiaku . . .  Sebagai ibu kami, tidakkah pedih hatimu melihat keluargamu terhimpit hidupnya dengan kaleng baja, hanya tersisa pekerjaan menjadi jongos, untuk mereka yang kalah saing dengan robot-robot itu. Bahkan di gunung emas yang tanah suburnya tersiram darah perjuangan kami.  Demi kami anak kandungmu, masih sudi-kah engkau berdo’a agar nasib kami tidak seperti malin kundang yang durhaka kepada ibunya sendiri.  Akankah engkau menyumpahi kami berakhir menjadi batu?
Sebagai hasil kreasi otak manusia, akankah kalian menjual jiwa kalian? Menyembah apa yang kalian buat seperti zaman dahulu kala lagi? Bukankah kita seharusnya menjadi dokter yang mengontrol takaran obat agar menyembuhkan, bukan membuatnya overdosis?

Salam hangat dari si galing untuk pemuda-pemudi penerus bangsa.

No comments:

Post a Comment